Latest News

Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts
Showing posts with label Kepemimpinan. Show all posts

Monday, June 11, 2018

INFRASTRUKTUR MENUJU KEMAJUAN JAMAN DI INDONESIA



INFRASTRUKTUR MENUJU KEMAJUAN JAMAN DI INDONESIA

Bagian Infrastruktur yang sudah dapat digunakan pada lebaran tahun lalu sudah mulai dirasakan Masyarakat dampak positifnya. Mudik lebih cepat sampai, mengurangi kemacetan dijalan umum, mengurangi angka kecelakaan dan tentunya mengurangi biaya perjalanan bagi pengendara bermotor.

Tahun ini tentu akan lebih banyak Rakyat yang merasakan dampak positif dari bagian Infrastruktur yang dibangun oleh pemerintahan Jokowi. Sebab Infrastruktur kini bertambah banyak yang sudah dapat digunakan. Indonesia berangsur mulai menjadi Negara modern. Bukan Negara ketinggalan jaman.

Untuk menghadapi perubahan ini, bangsa Indonesia juga harus siap mental. Merubah keterbelakangan mental ke mental modern. Dan inilah yang disebut Revolusi Mental. Modern bukan berarti menghapus budaya yang ada selama ini. Namun tidak semua budaya patut untuk dipertahankan.

Budaya-budaya yang tidak benar atau salah tentu tidak layak untuk di pertahankan. Dan cukup banyak budaya-budaya yang tidak layak untuk di pertahankan. Budaya-budaya yang cukup merugikan diri sendiri dan orang lain. Budaya-bidaya yang dapat mempermalukan diri dan orang lain. Intinya adalah budaya-budaya yang membuat bangsa Indonesia tetap dalam keterbelakangan mental.

Budaya-buday tersebut adalah budaya yang menyangkut kefanatikan terhadap ritua-ritual aliran kepercayaan (Agama) dan adat istiadat dalam kesukuan dan Ras, yang membuat sekat-sekat tethadap sesama Manusia umumnya, sesama bangsa Indonesia khususnya. Bagaimana satu kesatuan bangsa Indonesia dapat terjalin erat satu sama lain kalau tersekat-sekat oleh Kesukuan, Ras dan Aliran kepercayaan (Agama)?

Berkat Jokowi yang benar-benar mau bekerja sebagai Presiden RI membangun Negara dan mengajarkan bangsa Indonesia untuk bermental baja, kini Indonesia benar-benar menuju Negara maju, jaya dan bermartabat. Namun apa yang dilakukan Jokowi akan hancur kedepannya bila tidak ada generasi bangsa Indonesia yang lebih baik darinya kelak saat Jokowi tidak lagi memimpin pemerintahan Indonesia.

Maka dari itu, setiap kita bertugas untuk menciptakan generasi bangsa yang lebih baik dari seorang Jokowi. Sebab perkembangan jaman didunia menuntut kita untuk selalu berpikir maju kedepan. Melangkah untuk maju, bukan untuk tertunduk malu. Maka hilangkanlah sekat-sekat diantara kita putra-putri bangsa Indonesia, demi masa depan bangsa dan Negara Indonesia yang jauh lebih baik dari pada dulu dan saat ini.

Salam Waras Mental
Muhammad Hajar (FB)

Friday, November 6, 2015

Teori kepemimpinan partisipatif




Sebab kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan seimbang antara pemimpin dan bawahan, pemimpin dan bawahan sama-sama terlibat dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Komunikasi dua arah makin bertambah frekuensinya, pemimpin makin mendengarkan secara intensif terhadap bawahannya. Keikutsertaan bawahan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan makin banyak, sebab pemimpin berpendapat bahwa bawahan telah memiliki kecakapan dan pengetahuan yang cukup luas untuk menyelesaikan tugas.

Ciri-cirinya :
1.      Pemimpin memberikan dukungan tinggi dan sedikit/rendah pengarahan.
2.      Posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dipegang secara berganti antara pemimpin dan bawahan.
3.      Komunikasi dua arah ditingkatkan.
4.      Pemimpin mendengarkan bawahan secara aktif.
5.      Tanggung jawab pemecahan masalah dan pengambilan keputusan sebagian besar pada bawahan.
a.       Teori X dan Teori Y dari Douglas McGregor

Teori prilaku adalah teori yang menjelaskan bahwa suatu perilaku tertentu dapat membedakan pemimpin dan bukan pemimpin pada orang-orang. Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas McGregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para manajer / pemimpin organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para pegawai / karyawan yaitu teori x atau teori y.
  • Teori X
Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.

Teori X memberikan petuah manajer harus memberikan pengawasan yang ketat, tugas-tugas yang jelas, dan menetapkan imbalan atau hukuman. Hal tersebut, karena manusia lebih suka diawasi daripada bebas, segan bertanggung jawab, malas dan ingin aman saja, motivasi utamanya memperoleh uang dan takut sanksi.
Contoh individu dengan teori X : pekerja bangunan.

? Keuntungan Teori X :
Karyawan bekerja untuk memaksimalkan kebutuhan pribadi.

? Kelemahan Teori X :
a. Karyawan malas,
b. Berperasaan irrasional,
c. Tidak mampu mengendalikan diri dan disiplin.

  • Teori Y
Teori Y memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Individu yang berperilaku teori Y mempunyai sifat : suka bekerja, commit pada pekerjaan, suka mengambil tanggung jawab, suka memimpin, biasanya orang pintar.
Contoh orang dengan teori Y : manajer yang berorientasi pada kinerja.

? Keuntungan teori Y :
a. Pekerja menunjukkan kemampuan pengaturan diri,
b. Tanggung jawab,
c. Inisiatif tinggi,
d. Pekerja akan lebih memotivasi diri dari kebutuhan pekerjaan.

? Kelemahan Teori Y :
Apresiasi diri akan terhambat berkembang karena karyawan tidak selalu menuntut kepada perusahaan

B. Teori Sistem 4 dari Rensis Linkert

? Asumsi dasar
Bila seseorang memperhatikan dan memelihara pekerjanya dengan baik maka operasional organisasi akan membaik. Fungsi-fungsi manajemen berlangsung dalam empat system:

1.      Sistem pertama (exploitive authoritative)
system yang penuh tekanan dan otoriter dimana segala sesuatu diperintahkan dengan tangan besi dan tidak memerlukan umpan balik.
Pemimpin sangat otokratis, mempunyai sedikit kepercayaan kepada bawahan, suka mengekplotasi bawahan, bersikap paternalistik memotivasi dengan memberi ketakutan dan hukuman-hukuman, diselang seling pemberian penghargaan yang secara kebetulan (occasional reward), hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah, dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas.

2.      Sistem kedua (benevolent authoritative/otokrasi yang baik hati)
system yang lebih lunak dan otoriter dimana manajer lebih sensitive terhadap kebutuhan karyawan.
Mempunyai kepercayaan yang berselubung, percaya pada bawahan, mau memotivasi dengan hadiah-hadiah dan ketakutan berikut hukuman-hukuman, memperbolehkan adanya komunikasi ke atas, mendengarkan pendapat-pendapat, ide-ide dari bawahan, dan memperbolehkan adanya delegasi wewenang dalam proses keputusan, bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaannya dengan atasan.

3. Sistem ketiga (manajer konsultatif)
system konsultatif dimana pimpinan mencari masukan dari karyawan.
Mempunyai sedikit kepercayaan pada bawahan, biasanya dalam perkara kalau ia memerlukan informasi, ide atau pendapat bawahan; masih menginginkan melakukan pengendalian atas keputusan-keputusan yang dibuatnya; mau melakukan motivasi dengan penghargaan dan hukuman yang kebetulan; dan juga berkehendak melakukan partisipasi; menetapkan dua pola hubungan komunikasi, iaitu ke atas dan ke bawah; membuat keputusan dan kebijakan yang luas pada tingkat bawah; bawahan merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaan bersama atasan.

4.      Sistem keempat (partisipative group/kelompok partisipatif)
system partisipan dimana pekerja berpartisipasi aktif dalam membuat keputusan.
Mempunyai kepercayaan yang sempurna terhadap bawahan; dalam setiap persoalan selalu mengandalkan untuk mendapatkan ide-ide dan pendapat-pendapat lainnya dari bawahan, dan mempunyai niatan untuk mempergunakan pendapat bawahan secara konstruktif; memberikan penghargaan yang bersifat ekonomis dengan berdasarkan partisipasi kelompok dan keterlibatannya pada setiap urusan terutama dalam penentuan tujuan bersama dan penilaian kemajuan pencapaian tujuan tersebut; mendorong bawahan untuk ikut bertanggung jawab membuat keputusan, dan juga melaksanakan keputusan tersebut dengan tanggung jawab yang besar; bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan

C. Model Leadership Continuum
Teori ini merupakan hasil pemikiran dari Robert Tannenbaum dan Warren H.Schmidt. Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pimpinan mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara, yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis.

Perilaku otokratis, pada umumnya dinilai bersifat negative, dimana sumber kuasa atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpinan.
Perilaku demokratis, perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan.
Menurut teori Continuum ada tujuh tingkatan hubungan pemimpin dengan bawahan:
1. Pemimpin membuat dan mengumumkan keputusan terhadap bawahan (telling).
2. Pemimpin menjualkan dan menawarkan keputusan terhadap bawahan (selling).
3. Pemimpin menyampaikan ide dan mengundang pertanyaan.
4. Pemimpin memberiakn keputusan tentative dan keputusan masih dapat diubah.
5.  Pemimpin memberikan problem dan meminta sarang pemecahannya kepada bawahan    (consulting).
6. Pemimpin menentukan batasan-batasan dan minta kelompok untuk membuat keputusan.
7. Pemimpin mengizinkan bawahan berfungsi dalam batas-batas yang ditentukan (joining).



KESIMPULAN :
Teori X menyatakan bahwa sebagian besar orang-orang ini lebih suka diperintah, dan tidak tertarik akan rasa tanggung jawab serta menginginkan keamanan atas segalanya. Dengan memahami asum?s dasar teori Y ini, McGregor menyatakan selanjutnya bahwa merupakan tugas yang penting bagi menajemen untuk melepaskan tali pengendali dengan memberikan desempatan mengembangkan potensi yang ada pada masing-masing individu. Motivasi yang sesuai bagi orang-orang untuk mencapai tujuannya sendiri sebaik mungkin, dengan memberikan pengarahan usaha-usaha mereka untuk mencapai tujuan organisasi.

Sumber :
Bolman, Lee G dan Terence E, Deal, 1997, Reframing Organization: Artistry, Choice and Leadership, San Fransisco: Jossey-Bass. Gibson, Ivancevich, Donnelly, 1990, Organisasi, Perilaku, Struktur dan Proses, Jilid, 1, University of Kentucky dan University of Houston (Editor: Djarkasih) Jakarta: Erlangga.